Girimulya.id – Kabar perkiraan harga Pertamax terbaru 2026 yang beredar di aplikasi pesan singkat WhatsApp menuai respons dari ekonom. Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai masyarakat, terutama kelas menengah, belum siap jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi benar-benar naik.
Bhima menambahkan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi, bahkan hanya sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per liter saja, sudah berada di luar kemampuan beli kelas menengah. Ekonom Universitas Airlangga (Unair), Wisnu Wibowo, sebelumnya juga menyampaikan perkiraan bahwa kenaikan harga BBM yang wajar adalah sekitar 5% – 10%. Mari kita telaah lebih lanjut mengenai isu sensitif ini.
Kenaikan Harga Pertamax Jadi Sorotan
Kenaikan harga Pertamax menjadi perbincangan hangat setelah tangkapan layar Harga Jual Eceran (HJE) BBM yang beredar luas. Dalam screenshot tersebut, tertera potensi kenaikan harga yang signifikan mulai April 2026.
Berdasarkan informasi yang beredar, kenaikan harga per liter untuk berbagai jenis BBM adalah sebagai berikut:
- Pertamax: naik Rp 5.550 per liter dari Rp 12.300 menjadi Rp 17.850 per liter
- Pertamax Green: naik Rp 6.250 per liter dari Rp 12.900 menjadi Rp 19.150 per liter
- Pertamax Turbo: naik Rp 6.350 per liter dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.450 per liter
- Dex: naik Rp 9.450 per liter dari Rp 14.500 menjadi Rp 23.950 per liter
- Dexlite: naik Rp 9.450 per liter dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.650 per liter
Meski demikian, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa informasi tersebut belum dapat dipertanggungjawabkan. Ia menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga BBM per 1 April 2026. Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari pihak terkait.
Pernyataan Kementerian ESDM Terkait Harga BBM
Katadata.co.id juga meminta konfirmasi kepada Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, terkait isu kenaikan harga BBM. Laode hanya memberikan jawaban singkat, meminta semua pihak untuk menunggu hingga 1 April 2026. Namun, ia menjelaskan bahwa besaran harga BBM non-subsidi akan berbeda antara BUMN dan badan usaha swasta.
Lebih lanjut, Laode menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi akan mengikuti mekanisme pasar. Yang terpenting bagi pemerintah adalah harga BBM subsidi, seperti Biosolar dan Pertalite, tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan. Pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat dengan mempertahankan harga BBM subsidi.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga BBM
Dalam tangkapan layar yang beredar, kenaikan harga BBM dikaitkan dengan tren kenaikan Harga Indeks Pasar (HIP) di tengah lonjakan harga minyak dunia. Konflik geopolitik, seperti yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, turut memicu volatilitas harga minyak global. Apakah ini satu-satunya faktor? Tentu saja tidak.
Selain itu, penyesuaian harga BBM juga mempertimbangkan perlunya selisih harga yang cukup lebar dari pesaing. Hal ini bertujuan untuk memitigasi gejolak sosial di segmen Jenis BBM Umum (JBU) ketika terjadi kenaikan harga yang signifikan. Dengan kata lain, pemerintah berusaha menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan stabilitas sosial.
Dampak Kenaikan Harga BBM bagi Masyarakat
Bhima Yudhistira menekankan bahwa masyarakat, terutama kelas menengah, akan merasakan dampak signifikan jika harga Pertamax benar-benar naik. Kenaikan harga BBM dapat memicu inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat secara keseluruhan. Bagaimana masyarakat merespons situasi ini?
Kenaikan harga BBM juga dapat berdampak pada sektor transportasi dan logistik, yang pada gilirannya dapat memengaruhi harga barang dan jasa lainnya. Pemerintah perlu mempertimbangkan dampak ini secara matang sebelum mengambil keputusan terkait harga BBM. Pertimbangan matang sangat esensial.
Antisipasi dan Mitigasi Dampak Kenaikan Harga
Pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah antisipasi dan mitigasi untuk mengurangi dampak kenaikan harga BBM bagi masyarakat. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan meningkatkan efisiensi energi dan mendorong penggunaan energi alternatif. Ini menjadi solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan bantuan sosial yang tepat sasaran kepada masyarakat yang paling rentan terdampak kenaikan harga BBM. Program-program bantuan sosial harus dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya. Pemerintah perlu memastikan bantuan tersalurkan sempurna.
Kesimpulan
Kabar mengenai potensi kenaikan harga Pertamax di April 2026 menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah. Meskipun informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya, penting bagi semua pihak untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan. Pemerintah perlu mengambil kebijakan yang bijaksana dan mempertimbangkan dampaknya bagi seluruh lapisan masyarakat. Kenaikan harga Pertamax adalah isu penting, dan pemerintah perlu mengambil langkah nyata.
